>"kau pintar tapi kau tak cerdass!!"

>“kau pintar tapi kau tak cerdass!!”
oleh Yusniya El Musyafa{Yusniyanti] pada 13 Desember 2010 jam 11:58

Aku bergidig ketika harus beradu mulut dengan kakakku. Sebuah pertengkaran kecil yang dipicu oleh hal-hal sepele menurutku. Tapi yang namanya kakakku, kalau tak berhasil melampiaskan kekesalannya atas ulahku _yang menurut dia betapa tak taunya aku akan hal sepele semacam itu_. Hingga sebuah kata tendangan itu kan mengalir dari mulut pendiamnya.
“yusni.. ‘kau pintar tapi tak cerdas!!!” ketusnya cadas dan berkesan sukses mematikan semua argumen yang bakal aku limpahkan atas tuduhannya.
Kali ini, berarti sebuah kesalahan telah muncul dan membuat dia kesal.

“kapan kau akan belajar jika hal macam ini saja kau tak tau” ucapnya.
Itu ketika aku dengan sengaja lupa tidak mencabut stop kontak magic com yang nasinya tinggal sedikit. Padahal kupikir dia juga biasa melakukannya untuk membuat sepiring nasi terakhir itu tetap hangat sebelum dimakan.
Lain waktu.
“kenapa kau menumpahkan semua minyaknya ke dalam kompor ini, kau tau ini tak boleh penuh2”.
waktu itu aku hanya bisa menggeleng2kan kepalaku.
“it’s ok, g bakal terjadi apa2 dg kompor minyak kesayanganmu itu, dibikin penuh pun ga bakal meledak, toh aku mengisinya juga sesuai standar pengisian ‘penanda minyaknya’ “.jelasku.
“penanda minyak itu tak berfungsi, g usah berpatok ma dia” sergahnya.
“penandanya jalan kakakku..
(adegan ini neh yg bisa bikin aku melotot sakin keselnya)
orang tiap aku isi minyak jarum merah itu jalan ko” belaku.
“percuma, lo ngisi setengah penuh aja” keukeuhnya mantap.
“nya sarua oge lamon kitu mah!
(tanda kesal memuncak logat asing bukan tegal mendadak keluar, haha),
terus gimana aku bisa tau kalo itu kompor udah terisi seberapa? Patokanya ya penanda merah ittu” tunjukku, mencoba melempar argumen meyakinkan (kali ini dibubuhi fakta “based on riset’s field” sebab selama ini akulah pengisi rutin minyak tanah kompor kesayangannya itu).
“ga, pake prediksi aja, buat ngirit juga itu, minyak tanahnya mahal” tandasnya menutup perdebatan.
Ngalah juga akhirnya aku.

Lain waktu lagi,
“kau salah memasang ini, seharusnya begini”
atau,
“seharusnya kau meletakannya seperti ini, masa begitu aja kau tak tau”.
Atau
“lampu ini jangan di matikan kalau kau pergi”
dan
bla.bla.bla.bla.bla…

Lalu ketika ucapan
“kau pintar tapi tak cerdas” itu keluar dari mulutnya, aku hanya bisa bernyanyi2 kecil mendendangkan lagu candil “serious” sambil melirik2 ke arahnya,,
“yussni juga manusia..punya rasa punya hati..jangan samakan dengan pisau belati,,,”
tentu saja dg ritme yang mengalun mendayu dg sdikit nada sarkasme (tau dah kerasa tersindir juga kaga tuh anak).

Ia hanya bisa tersenyum nyinyir kepadaku “manusia sih manusia tapi lo salah mulu namanya dah kelewatan” tandasnya kesal.
Kalo sudah begitu, senyum nyengir kan tersungging jua dari bibirku
“pahamilah adikmu ini ayundaku, namanya orang tak tau ya di ajarin ke..” aku memasang wajah memelas.
“makanya.. Itulah kamu, pintar tapi tak cerdas” ujarnya mencecar.
Mati kutu lah kalo udah begini.

Aneh, aku selalu mencerna kalimat itu dalam-dalam. Tentu saja diiringi dg kata pembuka “benarkah..benarkah” yang kemudian di susul dengan sejuta pertanyaan yang menggelayut akan kalimat menohok itu. Meski aku selalu menganggapnya sebuah olok2 untuk sekedar berkelakar tapi tak pelak juga otak mencernanya di pikiran. Sebuah sedikit kebanggaan tapi, menilik pada kata “kau pintar” nya itu yang menunjukan bahwa ia mengakui kalo adik pembuat onarnya ini berpredikat pintar. Haha.
Pintar?
Yah tentu saja pintar yang dinilai dari sudut pandang versi akademik.
Meski tak dipungkiri, mengingat nilai-nilai dirapotku yang takkan jauh dari deretan angka 8 atau 9 di masa MI dulu, atau usahaku mempertahankan predikat “rangking 1” dari kelas satu sampai kelas 3 SMEA lalu hingga menyabet gelar juara 1 sejurusan Adm. Perkantoran, atau melihat perjuanganku mati2an mendapat predikat “10 besar” di SMP ku dulu dg persaingan ketat banyaknya anak pintar di masa itu. Atau pula melihat perjuanganku bergadang tiap malam mempelajari “matematika, bhs inggris dan bhasa indonesia” hanya untuk menembus masuk sekolah SMEA kebanggaanya mengingat setahun aku menunda pendidikanku dan akhirnya pun aku bisa masuk dengan nomer pendaftaran terpampang manis diurutan 38 (nomor yang lolos masuk) menyingkirkan ratusan pendaftar yang jumlahnya mencapai seribu orang itu.

Toh bagiku, kata itu sudah percuma tersemat lagi di namaku sebab sekarang aku tidak lagi bernaung pada sebuah kehidupan yang bernama pendidikan, yang mengharuskanku berkutat menekuni buku2 pelajaran macam dulu. Pintar hanya tinggal kenangan.
Kini aku menjejali dunia baru yang orang sebut sebagai “universitas kehidupan”, lengkap dg lika-liku dinamikanya sebagai orang susah.

Itulah aku kini, mencoba bergelut dg keadaan yang porsinya tak mampu lagi kuukur dg sebuah nilai yg berbenturan dg teori dan logika yang dulu jawabannya selalu ada di buku mata pelajaran atau buku2 lain yg hanya bisa kutemukan di “tempat rahasiaku”, perpustakaan.

Aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang takdirnya ditentukan oleh aku sendiri sebagai pemegang dan pengendalinya. Mungkin itu sebabnya, kakaku selalu mengatakan “kau pintar tapi tak cerdas”.
Baginya hidup harus dijalani tanpa berpikir teori.
“teori mana yang akan kau ambil dalam mengambil keputusanmu itu hah??”,
ucapan itulah yang seolah menyindirku akan betapa lambannya aku berpikir dan mengambil keputusan. Meski ada nilai2 dalam dirinya yang kadang tak mampu aku tolerir tapi bagiku wajar, mengingat posisinya sebagai saudara tertua yang tak dipungkiri bibit2 keegoisan itu mengalir dalam dirinya. Tapi aku senantiasa mahfum, ia adalah saudara kandungku dan menyadari ia punya cara tersendiri menyayangi kami adik2nya.

Aduhai, sekali lagi yusni juga manusia kakakku,,
ia butuh lebih banyak bimbingan, arahan, nasehat dan pelajaran dari engkau yang lebih dulu mengenal betapa keras dan lembutnya kehidupan ini.

Buatlah aku cerdas dikala kalimat itu tak mampu terangkum dalam pembelajaran istimewa yang diajarkan ibu kita yang nun jauh disana tuk saat ini.

Ijinkan aku mengerti dan merasakan perih apa yang telah kau rasakan pada hari2 yang belum aku lewati nanti. Biar aku tak tergilas, biar aku tak tergelincir dan berkubang dalam salahnya aku mengambil keputusan yang membuat aku seolah hidup adalah melulu tentang sebuah persoalan dan pilihan jawaban.

Sebelum masa perpisahan itu tiba, pada sebuah hari yang menjauhkan kau dan aku saat ini.
Pada sebuah hari ketika statusmu berubah menjadi “pendamping hidup” bagi orang lain.

Dan dari sudut hati terdalam hanya ingin kukatakan “betapa aku menyayangimu” dg segala sosok dan sifat yang melekat pada dirimu sebagai saudara kandung anak dari ayah dan ibuku.
Hingga nanti sebuah ungkapan manis kan mengalir dari bibir pendiammu yang menandakan bahwa aku mampu menjalani semua ini meski telah berlepas diri darimu,
“tak papa kau tak lagi pintar, tapi kau sudah mampu belajar cerdas”.

Dan saat itu juga kan kulambungkan nyanyian candil ke udara.
“yusni jugaa manusiaa..punya rasa punya hati..
Karena sekarang bukaan anak kecil lagiii…yeaaaah”.

Bekasi, 13 Desember ’10

____to my lovely cictey___

About ceritadewasagabrud

cerita cerita porno dewasa hahahahha
This entry was posted in Yusniyanti. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s